Di Bawah Bayang-Bayang Gunung POEMBOEROEPA

15 Desember 2025 | Admin | 28 kali dibaca

Kolonodale, 4 Oktober 1935

Hujan baru saja berhenti mengetuk atap seng kantor *Onderafdeling* Kolonodale. Di luar, aroma tanah basah dan hutan tropis menyeruak masuk melalui jendela yang terbuka. Gezaghebber A.K.F. Avink duduk di balik meja kayunya yang kokoh, menatap tumpukan kertas yang akan menjadi warisan terakhirnya bagi tanah ini.

Ia mencelupkan penanya ke dalam tinta. Ini bukan sekadar laporan administratif; ini adalah kesaksian atas dua tahun pergulatan melawan alam, penyakit, dan kemiskinan di tengah belantara Sulawesi Tengah.

*"Tuan Pengganti,"* batinnya, *"kau tak perlu membaca ulang sejarah 1930. Mulailah dari sini, dari apa yang kutinggalkan pada Oktober 1935 ini."*

: Bab I: Garis-Garis di Peta

Avink memulai dengan menarik garis imajiner di udara, membayangkan peta wilayah yang baru saja berubah. Juli dan Agustus 1935 adalah bulan-bulan birokrasi yang sibuk. Atas desakan para *Zelfbestuurders* (Raja-raja lokal) dari Boengkoe dan Laiwoei, batas wilayah telah digeser.

Pulau Lebangke kini telah dilepaskan ke tangan Laiwoei, sementara kepulauan Matarape ditarik masuk ke pelukan Boengkoe. Avink menuliskan batas-batas alam itu dengan teliti: dari dataran Paloloa di ujung Pegunungan Poemboeroepa yang mencium Laut Maluku, menyusuri punggung naga Pegunungan Langkikima dan Toelabatoe, hingga turun tegak lurus ke tempat Kali Oewahi menghilang ditelan bumi di Gunung Padano.

Di sinilah dunianya bermula dan berakhir. Sebuah tanah yang keras, di mana sungai dan gunung menentukan nasib manusia.

: Bab II: Keringat dan Dinamit

*"Uang,"* desah Avink, menuliskan angka-angka yang menyedihkan. Anggaran 1934 hanya menyediakan f.2.000, dan tahun 1935 menyusut menjadi f.1.500. *"Bagaimana kita bisa menaklukkan hutan ini dengan uang receh?"*

Namun, jalan harus tetap terbuka. Tanpa uang, yang tersisa adalah *Heerendienst*—kerja wajib. Dengan tenaga manusia itulah ia mengubah jalan setapak menjadi jalan kuda yang lebar, bermimpi suatu hari nanti mobil-mobil akan menderu di sana.

Ia teringat jalur neraka Kolonodale-Marompi. Empat puluh lima kilometer yang kini, setidaknya, sudah bisa dilalui truk barang, meski ia enggan menyebutnya "jalan raya". Tapi alam tidak pernah menyerah begitu saja. Di Tompira, Sungai Laa yang perkasa selalu menenggelamkan jalan setiap tahun. Solusinya adalah meninggikan tanah satu meter dan memasang ponton kabel (*gierpont*) yang kokoh untuk menyeberangkan truk.

Tapi kenangan terberat adalah di Marompi-Matangkara. Di sana, batu karang menghadang seperti benteng raksasa. *"Dinamit,"* tulis Avink. *"Hanya dengan ledakan dinamit kita bisa meruntuhkan keangkuhan batu itu untuk membuka jalan ke perbatasan Poso."*

Dan ada kegagalan yang harus diakui. Jembatan megah sepanjang satu kilometer yang menghubungkan Sampalowo dan Mendowe telah runtuh, dihantam banjir bandang Sungai Laa tahun 1934. Avink memutuskan untuk menyerah pada sungai itu; jembatan tak akan dibangun ulang. Sebagai gantinya, sebuah tanggul perlahan dibangun. Kadang, manusia harus tahu kapan harus mundur.

: Bab III: Orang-Orang Bukit dan Hati yang Panas

Pikiran Avink melayang ke pegunungan tinggi, tempat suku To Wana hidup dalam isolasi. Mereka adalah teka-teki terbesar. Orang-orang yang jujur, terbuka, namun primitif dan mudah tersinggung—mereka menyebutnya *"Panas Hati"*.

Ada ketegangan yang tak terlihat namun tajam di udara. Orang To Wana, yang sebagian mulai memeluk Kristen berkat Misionaris di Lemoe dan sebagian masih memegang adat leluhur, dipaksa tunduk di bawah pemerintahan Distrik Boengkoe yang Muslim.

*"Mereka makan babi saat pesta,"* tulis Avink, menyadari jurang budaya yang menganga. *"Bagaimana mungkin mereka diperintah oleh mereka yang mengharamkannya?"*

Ia melihat masa depan yang suram jika ini diteruskan. Orang To Wana merasa asing, tertekan. Solusinya, pikir Avink, adalah menyerahkan mereka pada pemerintahan orang Mori. Orang Mori juga Kristen, dan karakter mereka lebih selaras. Sebuah rencana jalan tengah sedang disusun: mengangkat seorang Mori sebagai Kepala Onderdistrik.

Patroli militer yang dikirim ke Gunung Baraba melaporkan masih banyak jiwa yang belum terdaftar. Seribu jiwa, mungkin lebih, bersembunyi di balik kabut, menolak untuk dihitung, menolak untuk turun ke "kampung-kampung" buatan yang didirikan pemerintah di Salabiroe dan Soe.

: Bab IV: Kelaparan di Lumbung Sagu

Avink beralih ke bab ekonomi dengan perasaan campur aduk. Tanah ini subur, namun orang-orangnya sakit. Krisis ekonomi (*Malaise*) telah menghantam keras. Harga damar dan rotan jatuh ke titik nadir.

Di Boengkoe dan Bahodopi, tragedi itu bernama Sagu. Ketika harga hasil hutan tinggi, mereka membeli beras. Ketika harga jatuh, mereka kembali ke hutan, menebang sagu. Sagu mengisi perut, tapi tidak memberi tenaga pada saraf.

Tahun 1934, wabah *Beri-beri* meledak di Sioembatoe dan Bahodopi. Kaki-kaki membengkak, jantung melemah. Avink bertindak cepat, menggelontorkan f.500 untuk membeli kacang hijau. *"Sagu adalah kutukan sekaligus berkah,"* pikirnya.

Namun ada harapan. Di Distrik Paleroe, Kepala Distrik bernama Ginta telah menjadi pelopor. Ia tidak hanya memerintah, ia mencangkul. Ginta mencetak sawah, membuktikan bahwa padi bisa tumbuh subur. Hasilnya mulai terlihat: impor beras turun dari 29.000 kg pada 1934 menjadi 19.000 kg pada 1935. Kemajuan kecil, tapi berarti.

Dan kemudian, masalah Damar. Pohon-pohon itu adalah satu-satunya "rekening bank" penduduk. Namun, para pedagang Tionghoa dan lokal telah menjerat penduduk dengan sistem *ijon* (uang muka). Penduduk berutang pajak, pedagang membayarkannya, dan sebagai gantinya, penduduk menjadi budak pengumpul damar seumur hidup. Avink melarang praktik ini dengan keras. Pohon damar harus diselamatkan dari penyadapan yang serakah, atau wilayah ini akan bangkrut selamanya.

: Bab V: Musuh Tak Kasat Mata

Laporan Dokter Noordhoek Hegt tergeletak di sampingnya. Isinya mengerikan.

Kolonodale mungkin bebas malaria, sebuah oase yang sehat. Namun di luar sana? Di muara Sungai Laa, di Boenta, 80% penduduk memiliki limpa yang membengkak karena malaria. Di rawa-rawa Bahodopi, angkanya mencapai 90%.

Kematian mengintai di air. Wabah disentri telah merenggut ratusan nyawa. Cacing tambang menggerogoti 30% tenaga kerja penduduk, membuat mereka lemah dan lesu.

Dan di dataran tinggi Boven-Mori, penyakit aneh muncul: Gondok (*Kropziekte*). Leher-leher membengkak di Tomata dan Kororonta. Pemerintah kini membagikan garam beryodium (*Nadoorazout*), berharap itu cukup untuk menghentikan kutukan di leher mereka. Sementara itu, di selatan, penyakit kelamin mulai merayap masuk melalui pelabuhan, dibawa oleh para pelaut dari Salabangka.

: Bab VI: Pemberontak dan Garam

Menjelang akhir laporannya, Avink teringat pada Kedah.

Pada November 1934, Kedah, seorang To Wana yang ambisius, mencoba menjadi raja kecil. Ia menghasut rakyatnya: *"Ikutlah denganku, bayar pajak hanya f.1,50, dan tidak perlu kerja rodi!"*

Itu adalah janji manis bagi telinga yang lelah. Tapi Avink tahu, itu hanya tipuan. Kedah hanya ingin memonopoli perdagangan damar untuk dirinya sendiri. Pemberontakan itu dipadamkan dengan cepat, Kedah ditangkap sebelum api menyebar.

Namun, musuh terbesar bukanlah pemberontak, melainkan kebijakan pemerintah sendiri: Monopoli Garam.

Kebijakan itu nyaris mematikan Distrik Salabangka. Penduduk di sana hidup dari ikan asin. Ketika mereka dipaksa membeli garam monopoli yang mahal dengan sistem lisensi yang rumit (harus membeli minimal 50 kg seharga f.2 ditambah biaya segel), industri ikan asin mati suri. Mereka tak sanggup bersaing dengan penyelundup garam dari Malili.

Avink tersenyum tipis mengingat kemenangannya berdebat dengan Inspektur Seepers. Aturan akhirnya dilonggarkan. Sistem lisensi dihapus, pembelian boleh dilakukan secara kongsi. Kini, asap pengasapan ikan kembali mengepul di Salabangka, dan pajak kembali mengalir.

: Epilog: Warisan Terakhir

Matahari mulai terbenam di Teluk Tomori.

Avink melihat angka terakhir di bab keuangannya. Pada 1933, tunggakan pajak mencapai 66%. Kini, di akhir 1935, tunggakan itu tinggal 7%. Sekolah-sekolah telah diserahkan ke Misi Zending, murid-murid di Kafalagadi bertambah dua kali lipat.

Ia telah melakukan apa yang ia bisa dengan dana yang ada, dengan dinamit, dengan larangan ijon, dan dengan kacang hijau untuk melawan beri-beri. Kolonodale masih keras, masih liar, dan masih penuh penyakit. Tapi malam ini, ada jalan yang terbuka, ada sawah yang menguning, dan ada tatanan yang ditegakkan.

Ia membubuhkan tanda tangannya di halaman terakhir.

*Kolonodale, 4 Oktober 1935.*
Gezaghebber Kolonodale,
A.K.F. AVINK



-----------
Sumber : Arsip kolonial Belanda yang awalnya dikoleksi oleh Institut Tropis (KIT) dan kini disimpan serta didigitalkan oleh Arsip Nasional Belanda (Nationaal Archief).